Takdir Umat Manusia
Dalam pengakuan iman kita, kita melihat adanya iman terhadap hal-hal yang akan datang, yang belum kita alami secara nyata saat ini. Kita mengucapkan:
Aku menunggu akan kebangkitan orang-orang mati. Serta kehidupan zaman yang akan datang.
Dalam istilah teknis teologi, kita mengenal hal ini sebagai Eskatologi, sebuah bidang yang membahas “hal-hal terakhir” atau eschata dalam bahasa Yunani. Sayangnya, pemahaman tentang “hal-hal terakhir” ini sering kali disempitkan hanya pada isu-isu menakutkan seperti antikristus, hari penghakiman, dan neraka. Padahal, eskatologi sejatinya jauh lebih mendalam dan positif, ia adalah tentang pemenuhan janji-janji Tuhan dan apa yang seharusnya dinantikan dengan penuh sukacita oleh setiap orang Kristen.
Untuk memahami eskatologi secara utuh, kita tidak bisa hanya memulainya dengan melihat ke masa depan, tetapi harus menengok ke masa lalu. Jika eskatologi adalah tentang kedatangan Kerajaan Tuhan, maka kita harus kembali kepada Injil, di mana Kristus memberitakan bahwa Kerajaan Surga sesungguhnya telah tiba. Ia bersabda,
Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu (Luk. 11:20).
Sabda ini terwujud nyata dalam mukjizat dan pengusiran setan yang dilakukan Kristus selama pelayanan-Nya di bumi; kerajaan maut dan penyakit telah digulingkan. Namun, pada saat yang sama, Kristus juga berbicara tentang Kerajaan yang masih akan datang, tentang kedatangan-Nya yang kedua kali, dan penghakiman terakhir:
Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya (Mat. 16:27).
Inilah paradoks indah dari Gereja dalam dimensi eskatologisnya, bahwa Kerajaan Allah “sudah” datang, namun “belum” sepenuhnya genap. Gereja hidup dalam tegangan antara zaman ini dan zaman yang akan datang. Sebagaimana dikatakan oleh Pater George Florovsky, Gereja adalah “citra kekekalan dalam waktu.” Dimensi eskatologis ini dimulai sejak Kebangkitan Kristus, yang merupakan awal dari akhir zaman. Rasul Paulus menegaskan bahwa “pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya” (Ibr. 1:2).
Para Bapa Apostolik dan orang Kristen perdana hidup dengan penantian yang berkobar-kobar akan kedatangan Kristus. Meskipun hingga kini Kristus belum datang kembali secara fisik, pemahaman mereka tidaklah keliru. Mereka menyadari bahwa zaman yang akan datang telah menyusup ke masa kini karena Kristus telah mengangkat kodrat manusia ke surga melalui Kebangkitan dan Kenaikan-Nya.
Puncak dari eskatologi adalah kedatangan Kristus yang kedua kali, di mana semua manusia akan dibangkitkan. Di sini kita harus menegaskan poin penting, yakni bahwa Gereja Orthodox tidak hanya percaya pada kekekalan jiwa semata, atau bahwa keselamatan hanya milik realitas rohani. Mengikuti Kitab Suci, kita mengimani kebaikan tubuh manusia dan seluruh ciptaan fisik materi. Oleh karena itu, dalam iman akan kebangkitan dan hidup kekal, Gereja Orthodox tidak mencari keselamatan dengan melarikan diri ke “dunia lain” yang asing, melainkan menantikan pemulihan dunia ini yang begitu dicintai Allah. Dunia inilah yang akan dibangkitkan, dimuliakan, dan dipenuhi oleh hadirat Ilahi-Nya sendiri.
Pada saat Kedatangan Kedua Kristus itu, penghakiman terakhir akan terjadi, Surga dan Neraka akan menjadi nyata. Namun bagi Iman Orthodox, Surga dan Neraka bukanlah dua tempat terpisah secara geografis, melainkan dua cara yang berbeda dalam merasakan satu realitas yang sama, yakni merasakan kehadiran Allah yang memenuhi segala sesuatu. Sebagaimana tertulis
semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya, dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum” (Yoh. 5:28-29).
Dalam hadirat Kristus kelak, umat manusia akan terpisah seperti domba dan kambing berdasarkan kondisi batin masing-masing. Bagi mereka yang mengasihi-Nya, kehadiran Allah yang memenuhi seluruh ciptaan akan dirasakan sebagai Surga (firdaus); namun bagi mereka yang membenci-Nya, kehadiran yang sama itu akan dirasakan sebagai Neraka (api yang membakar).
Hal ini sesuai dengan nubuat Simeon bahwa Kristus “ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang” (Luk. 2:34). Para Bapa Gereja menjelaskan hal ini dengan sangat dalam. Ag. Yohanes Klimakos menyebut terang Kristus sebagai “api yang menghabiskan sekaligus terang yang menerangi.” Ag. Ishak dari Siria memberikan penjelasan yang paling menyentuh. Mereka yang di neraka sesungguhnya “disiksa oleh serbuan kasih.” Kasih Allah diberikan kepada semua orang tanpa pandang bulu. Bagi orang benar, kasih itu membawa sukacita, tetapi bagi orang berdosa, kasih itu menjadi siksaan penyesalan yang pahit. Jadi, api neraka bukanlah hukuman arbitrer, melainkan reaksi dari hati yang keras melawan Kasih yang murni. Karena Allah itu kekal, maka pengalaman akan kehadiran-Nya—baik itu sebagai surga maupun neraka—juga bersifat kekal.
Jika Surga dan Neraka ditentukan oleh respons kita terhadap kasih Allah, maka tidak mengherankan jika kriteria penghakiman terakhir adalah kasih terhadap sesama (Mat. 25:31-46). Pada hari penghakiman, segala sesuatu akan tersingkap. Kita akan melihat diri kita yang sebenarnya. Bagi mereka yang selama ini hidup dalam kebahagiaan semu tanpa pertobatan, kesadaran akan dosa dan penolakan terhadap kasih Allah akan menjadi teror yang nyata. Inilah sebabnya Gereja mengajarkan bahwa tidak ada pertobatan setelah kematian, bukan karena Allah menutup pintu, tetapi karena kondisi hati yang telah membatu tidak lagi mampu merespons kasih Allah dengan tulus.
Perlu ditegaskan bahwa konsep ini menolak doktrin Purgatorium (api penyucian) atau api ciptaan untuk menebus dosa. Dalam Iman Orthodox, Neraka adalah pengalaman akan Allah sendiri oleh mereka yang menolak-Nya. Oleh karena itu, kita tidak boleh memandang eskatologi dengan ketakutan negatif, melainkan sebagai pemenuhan janji Allah akan Langit Baru dan Bumi Baru.
Sering pula muncul anggapan keliru bahwa pada akhir zaman, dunia ini akan dihancurkan total dan Allah akan menciptakan segalanya baru dari ketiadaan (ex nihilo). Mereka yang berpendapat demikian sering mengutip ayat yang mengatakan “unsur-unsur dunia akan hangus” (2 Ptr. 3:10). Namun, karena Alkitab tidak pernah berbicara tentang “penciptaan kedua” dan secara konsisten bersaksi bahwa Allah mencintai dunia yang diciptakan-Nya “sungguh amat baik” (Kej. 1:31), maka Tradisi Orthodox tidak menafsirkan teks tersebut sebagai pemusnahan total (annihilation). Ayat-ayat tersebut dipahami secara metaforis sebagai bencana besar atau “ujian api” yang harus dialami ciptaan untuk disucikan, dimurnikan, dan diubahkan (ditransfigurasikan), bukan untuk dibinasakan.
Para nabi dan rasul memiliki visi yang sama akan eskatologi ini yaitu padang gurun akan bersorak dan berbunga (Yes. 35:1), dan Allah menciptakan Yerusalem baru sebagai sukacita (Yes. 65:17-18). Ketika Kerajaan Allah memenuhi seluruh ciptaan, segala sesuatu akan dijadikan baru (Why. 21:1-5). Dunia ini akan kembali menjadi firdaus sebagaimana tujuan awalnya diciptakan. Seluruh ciptaan fisik, bersama dengan orang-orang benar, akan bersukacita dalam kedatangan-Nya.
Jadi, kita sesungguhnya sedang hidup dalam dua dimensi, yakni sebagai orang yang telah diselamatkan namun masih berharap akan keselamatan dan sebagai mempelai yang telah bertunangan dengan Kristus namun masih menantikan pesta pernikahan-Nya. Kehidupan Kristen adalah perpaduan antara sukacita Ekaristi saat ini dan perjuangan untuk melayakkan diri bagi Kerajaan yang akan datang. Menantikan Kerajaan Allah berarti terlibat aktif mengasihi di dunia ini, karena dunia sekarang dan dunia yang akan datang tidak dapat dipisahkan; dunia ini sedang menantikan pemulihannya, bukan kehancurannya.

